16 Oktober 2017 3:36 pm

Merek semen apa yang harus kita pilih?

Merek semen apa yang harus kita pilih?
Bagi yang sedang membangun rumah, merenovasi, atau punya toko, munculnya beragam merek semen saat ini tentu membuat bingung.

Ada tiga merek klasik semen di Indonesia: Tiga Roda, Semen Gresik, dan Holcim. Pabrik semen yang dikelola BUMN sudah menjadi satu nama sekarang, yaitu Semen Indonesia. Yang tergabung di dalamnya adalah semen Gresik, Padang, dan Tonasa. Semen Baturaja juga dikelola BUMN, tapi tidak atau belum tergabung di grup Semen Indonesia untuk saat ini.

Saat ini begitu banyak merek semen yang beredar di pasaran. Ada semen Andalas, Merah Putih, Garuda, SCG, Bima, Jakarta, Serang, Hippo, Conch, Rajawali, Bosowa. Sebagai konsumen, pemilik toko, pemilik rumah, atau tukang bangunan, semen merek apa yang harus dipilih secara tepat untuk bangunan? Apa kriterianya?

Dari sisi kualitas secara umum, parameter uji yang dapat dites adalah kuat tekan dan waktu kering. Tentunya kita menginginkan kuat tekan yang tertinggi untuk bangunan yang kita huni. Makin tinggi kuat tekan, makin kokoh bangunan itu.

Parameter kuat tekan biasanya lebih dipakai untuk pondasi, kolom, bekisting, dan struktur penahan beban lainnya. Untuk dinding plesteran dan acian, tidak termasuk aplikasi struktural, karena tidak ada beban yang ditahan. Dari tiga pemain klasik semen, Holcim dan Gresik memiliki kuat tekan yang bersaing. Sedangkan Tiga Roda memiliki nilai kuat tekan terendah.


Parameter uji umum lainnya adalah waktu kering. Ini sudah masuk ranah selera. Tukang bangunan memiliki selera berbeda-beda untuk waktu kering. Ada yang senang cepat kering, ada yang lebih suka lambat kering. Bagi tukang bangunan yang kejar setoran (kerja borongan), tentu mereka lebih pilih semen yang cepat kering. Tiga Roda adalah pilihan tepat jika bicara waktu kering yang cepat, dibandingkan Holcim dan Gresik. Namun perlu hati-hati, semen yang terlalu cepat kering biasanya rawan retak. Hasil aplikasinya pada struktur, plesteran, atau acian, biasanya menghasilkan retak rambut. Tukang harus rajin menyiram untuk mencegah bangunannya retak.

Jika tukang senang dengan yang lambat kering, Holcim dan Gresik merupakan pilihan yang tepat. Data riset salah satu perusahaan semen swasta di Indonesia menunjukkan, Gresik di tahun 2016 ini memiliki waktu kering terlama. Untuk pengerjaan luasan dinding yang besar, waktu kering yang lama adalah suatu kelebihan. Karena tukang tidak perlu kerja terburu-buru, dan dapat mengerjakan hamparan dinding yang lebih luas. Lain cerita jika semen cepat kering, tukang harus kerja lebih cepat. Untuk urusan waktu kering, Holcim memiliki waktu yang pas, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.

Untuk merek semen selain pemain klasik di atas, nilainya bervariasi. Semen SCG memiliki kuat tekan yang tertinggi. Dan untuk waktu kering, semen-semen lain ada di antara Tiga Roda (kering tercepat) dan Gresik (kering terlama).

Semen kantong yang beredar di pasaran ada dua jenis, yaitu PCC (portland cement composite) dan PPC (pozzolan portland composite). Yang berjenis PPC adalah merek semen Gresik dan Rajawali (semen Rajawali masih satu grup dengan Tiga Roda), sisanya jenis PCC.

Tiga Roda, Gresik, dan Holcim, merupakan “pemain senior” di industri semen. Harga jual semen-semen tersebut juga bisa dikatakan kelas premium. Sedangkan semen-semen merek baru seperti Conch, Rajawali, dan Bima, mempunyai harga bawah. Sisanya, bermain di harga tengah.

Selisih harga semen premium dan termurah bisa mencapai sepuluh ribu rupiah. Tergantung lokasinya dimana, harga semen dapat berbeda-beda. Kadang ada yang bisa mencapai selisih lima belas ribu rupiah antara premium dan kelas harga bawah.

Kita bahas tiga pemain klasik terlebih dahulu: Tiga Roda, Gresik, Holcim. Ketiganya memiliki harga bersaing di kelas premium, selisih harga sekitar Rp 1000 – Rp 3000. Tipis saja. Untuk skala kecil tidak akan terasa, tapi untuk skala besar cukup lumayan untuk beli pulsa. Di beberapa tempat, Tiga Roda punya harga tertinggi, di tempat lain mungkin Gresik, atau Holcim kadang termahal.

Semen dengan harga bawah, selisihnya bisa mencapai sepuluh ribu rupiah. Sedangkan harga tengah, selisihnya sekitar lima ribu rupiah jika dibandingkan dengan merek klasik.Bicara teruji, mapan, dan kualitas yang konsisten, pemain klasik seperti Tiga Roda, Gresik, dan Holcim adalah pilihan utama. Adakah rekomendasi dari ketiganya? Kalau merujuk ke parameter kuat tekan, Holcim atau Gresik boleh dipilih. Dan jika merujuk ke parameter waktu kering yang pas, Holcim adalah pilihan tepat.

Jika berbicara tentang semen murah, merek Conch asal Cina ini mulai membanjiri pasar. Semen Bima dan Rajawali juga belakangan ini muncul dengan versi lebih murahnya.
Tapi untuk menghasilkan bangunan yang awet dan tahan lama, tidak disarankan untuk “coba-coba” menggunakan semen murah. Jika membeli semen kelas harga bawah, kita akan puas di awal karena berhasil menekan biaya. Tapi jika beberapa minggu atau bulan, dinding rumah menjadi retak-retak, kita perlu keluar biaya tambahan lagi untuk renovasi. Di beberapa kadang, bahkan harus bongkar ulang semuanya. Jadi perlu diingat bahwa harga tidak pernah bohong.

Semen-semen merek baru juga belum teruji konsistensi kualitasnya. Biasanya pemain baru menawarkan harga murah dan kualitas tinggi di awal kemunculannya. Namun seiring waktu, jika segmen pasar sudah didapat, kualitas akan diturunkan perlahan untuk mendapatkan margin keuntungan lebih besar.

Kalau kami sendiri, lebih menyarankan menggunakan semen holcim (yang kamu bisa beli d isini)
Metode Pembayaran
Metode Pengiriman
Alamat
Jalan Binong Raya, Tangerang
089-538-590-5575
@2018 Toko Bangunanku Inc.